Memahami Tingkatan Tawakal sebagai Jalan Hidup
Membicarakan tingkatan tawakal berarti membicarakan salah satu anak tangga spiritual yang paling sering disalahpahami orang. Banyak yang mengira tawakal itu sekadar pasrah tanpa usaha, padahal ia adalah kerja batin yang butuh latihan bertahun-tahun. Artikel ini akan menuntun Anda menelusuri tingkatan tawakal secara utuh, mulai dari makna dasarnya, sikap yang menyertainya, hingga manfaat nyata yang bisa dirasakan dalam keseharian.
Anggap saja pembahasan ini sebagai peta perjalanan. Anda tidak harus langsung sampai di puncak, cukup tahu posisi Anda sekarang dan langkah berikutnya. Sebab tawakal, seperti halnya iman, punya fase naik-turun yang wajar dialami siapa pun.
Apa Sebenarnya Tawakal Itu?
Sebelum membahas tingkatan tawakal lebih jauh, kita perlu menyepakati dulu tawakal itu apa. Secara bahasa, kata ini berakar dari wakala yang berarti menyerahkan atau mewakilkan urusan kepada pihak yang dipercaya. Dalam konteks keimanan, tawakal arti-nya adalah menyerahkan hasil akhir sebuah usaha kepada Allah setelah seseorang menempuh sebab-sebab yang bisa dilakukan.
Jadi ada dua sisi yang tidak boleh dipisah: ikhtiar dan penyerahan. Orang yang berhenti berusaha lalu mengaku tawakal sebenarnya belum memahami konsepnya. Sebaliknya, orang yang sudah berusaha mati-matian tapi tidak pernah menyerahkan hasilnya, hatinya akan terus gelisah karena merasa beban dunia sepenuhnya di pundaknya sendiri.

Ulama klasik sering mengibaratkan tawakal seperti petani. Ia membajak, menanam, merawat, lalu ketika tanaman sudah tumbuh, ia tidak bisa memaksa hujan turun atau menahan hama. Di titik itulah petani menyerahkan hasilnya kepada Yang Mengatur alam. Ibarat ini sederhana, tapi maknanya dalam sekali.
Tiga Pilar yang Menopang Sikap Tawakal
Sebelum masuk ke tingkatan-tingkatannya, ada baiknya kita mengenali pilar penyangganya. Sikap tawakal yang kokoh hampir selalu berdiri di atas tiga fondasi: keyakinan, usaha, dan penerimaan. Ketiganya bekerja seperti kaki kursi—jika satu patah, duduknya jadi goyang.

Fondasi pertama adalah keyakinan bahwa ada Dzat yang mengatur segala sesuatu di luar kendali manusia. Tanpa keyakinan ini, penyerahan akan terasa mustahil. Fondasi kedua adalah usaha maksimal sesuai kapasitas. Fondasi ketiga adalah penerimaan atas hasil apa pun, termasuk hasil yang tidak sesuai harapan.
Dalam praktiknya, banyak orang baru sampai di fondasi pertama lalu berhenti. Mereka yakin Allah Maha Mengatur, tapi usahanya setengah hati. Ada juga yang rajin berusaha namun sulit menerima ketika hasil melenceng dari rencana. Menyeimbangkan ketiganya adalah inti dari perjalanan menuju tingkatan tawakal yang lebih tinggi.

Mengapa Tingkatan Tawakal Itu Penting Dibahas?
Pertanyaan wajar: kenapa harus bicara tingkatan? Bukankah tawakal cukup dijalani saja? Jawabannya, karena manusia butuh peta untuk tahu di mana posisinya. Tanpa peta, kita cenderung menilai diri terlalu tinggi atau justru terlalu rendah.
Membahas tingkatan tawakal juga membantu kita bersabar terhadap proses. Iman dan tawakal bukan tombol yang bisa ditekan lalu langsung aktif. Ia lebih mirip otot yang harus dilatih, dan latihan butuh waktu, konsistensi, serta kesediaan jatuh-bangun.

Selain itu, kesadaran akan tingkatan membuat kita tidak gampang menghakimi orang lain. Ada kawan yang mungkin masih di tahap awal, dan itu bukan berarti ia lebih buruk dari kita. Setiap orang punya titik berangkat yang berbeda.
Tingkatan Tawakal Pertama: Tawakal Karena Terpaksa
Tingkatan tawakal yang paling dasar muncul ketika seseorang sudah kehabisan akal. Ia baru menyerahkan urusan kepada Allah setelah semua cara gagal dan tidak ada jalan lain. Boleh dibilang, ini tawakal karena terpaksa, bukan karena kesadaran.

Contohnya sangat sehari-hari. Ada orang yang baru berdoa khusyuk ketika sudah dinyatakan tidak lolos seleksi kerja. Ada yang baru mendekat kepada Tuhan setelah usahanya bangkrut. Bukan hal buruk, karena pintu tawakal memang bisa dibuka dari mana saja. Namun, kualitasnya masih rapuh karena bergantung pada situasi.
Cirinya cukup jelas. Ketika keadaan membaik, semangat penyerahan itu mengendur. Ia mudah kembali cemas saat persoalan baru muncul. Pada fase ini, tawakal arti-nya belum meresap ke dalam karakter, baru sebatas reaksi sesaat.

Meski begitu, jangan meremehkan fase ini. Banyak orang besar justru memulai perjalanan spiritualnya dari titik terdesak. Yang penting, fase ini tidak dijadikan tempat berhenti permanen.
Tingkatan Tawakal Kedua: Tawakal Rutin Tetapi Belum Meresap
Naik satu tingkat, ada orang yang sudah mulai menjadikan tawakal sebagai kebiasaan. Ia berdoa setiap selesai usaha, ia menyebut nama Allah ketika menghadapi kesulitan, ia berusaha tidak panik saat hasil tidak sesuai rencana. Sayangnya, kebiasaan ini belum sepenuhnya meresap ke dalam hati.

Di permukaan, sikap tawakal-nya terlihat baik. Tapi coba guncang sedikit lebih keras—misalnya dengan musibah besar atau kehilangan yang menyakitkan—maka tampak bahwa ketenangannya masih tipis. Ia bisa saja tetap mengucapkan kalimat penyerahan, tapi batinnya bergolak hebat.
Fase ini mirip orang yang rajin berolahraga tapi baru sebatas rutinitas, belum jadi gaya hidup. Ia butuh dorongan untuk bergerak, dan bisa berhenti kapan saja jika halangannya bertambah. Tawakalnya masih berlapis-lapis, belum menyatu dengan diri.

Agar tidak berhenti di sini, salah satu kuncinya adalah memperbanyak pemahaman, bukan sekadar memperbanyak ritual. Mempelajari kisah-kisah orang yang benar-benar tawakal bisa membantu menghidupkan makna di balik praktik yang sudah rutin dijalankan.
Tingkatan Tawakal Ketiga: Tawakal yang Sadar dan Terukur
Memasuki tingkat ketiga, seseorang sudah mulai memahami tawakal itu apa secara lebih mendalam. Ia tahu bahwa tawakal bukan berarti menyerah, melainkan memindahkan beban hasil dari pundak sendiri ke tangan Yang Maha Kuasa, sementara usaha tetap dijalankan dengan sebaik mungkin.

Pada fase ini, ia bisa membedakan antara hal yang masih dalam kendalinya dan hal yang sudah di luar jangkauan. Ia tidak lagi menghabiskan energi untuk mencemaskan hal-hal yang tidak bisa diubah. Ini terlihat sederhana, tapi efeknya besar sekali terhadap ketenangan batin.
Contoh konkretnya begini. Seorang pedagang yang sudah di tingkat ini tetap memikirkan strategi jualan, riset pasar, dan pelayanan pelanggan. Namun ketika penjualan sepi di luar perkiraan, ia tidak lantas menyalahkan diri berlebihan atau kehilangan harapan. Ia mengambil pelajaran, lalu melanjutkan usaha dengan kepala dingin.

Tingkatan tawakal seperti ini biasanya lahir dari pengalaman panjang. Orang yang sudah sering melewati pasang-surut hidup cenderung lebih cepat sampai di sini, karena mereka sudah melihat sendiri bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.
Tingkatan Tawakal Keempat: Tawakal yang Tenang dalam Ketidakpastian
Di tingkat keempat, ketenangan bukan lagi hasil dari perenungan sesaat, melainkan sudah menjadi karakter. Orang pada fase ini bisa menjalani proses yang penuh ketidakpastian tanpa kehilangan keseimbangan. Ia tidak menunggu hasil untuk merasa tenang, justru ketenangannya yang membuat proses berjalan lebih lancar.

Ini bukan berarti ia kebal rasa sedih atau kecewa. Ia tetap manusia yang bisa menangis saat kehilangan sesuatu yang berharga. Bedanya, kesedihan itu tidak sampai mengguncang keyakinannya bahwa segala sesuatu berjalan dalam rencana yang lebih bijak.
Kawan saya, seorang perawat di rumah sakit, pernah bercerita bahwa rekan-rekannya yang punya sikap tawakal di level ini cenderung lebih tahan menghadapi tekanan kerja. Mereka tetap profesional saat pasien kritis, tidak panik, dan bisa mengambil keputusan cepat. Menurutnya, mereka bukan orang yang tidak peduli, justru sebaliknya—kepeduliannya besar, tapi tidak membuatnya kehilangan akal.

Untuk sampai di sini, latihan yang paling membantu adalah memperbanyak rasa syukur dan mengurangi ketergantungan pada validasi hasil. Semakin seseorang mengukur keberhasilan hanya dari hasil akhir, semakin sulit ia mencapai ketenangan yang stabil.
Tingkatan Tawakal Kelima: Tawakal Total yang Menyatu dengan Ibadah
Inilah tingkatan tawakal yang paling tinggi, yaitu ketika penyerahan kepada Allah bukan lagi aktivitas yang dilakukan sesekali, melainkan sudah menyatu dengan seluruh ibadah dan aktivitas sehari-hari. Orang pada fase ini hidup dalam kesadaran bahwa setiap detiknya berada dalam genggaman Yang Maha Mengatur.

Ia berusaha maksimal bukan untuk mengendalikan hasil, tapi karena usaha itu sendiri adalah bentuk ketaatan. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi hatinya ringan karena tahu siapa yang akan menanggung akhir cerita. Dalam banyak kisah klasik, orang-orang seperti ini justru sering menghadapi ujian paling berat—dan itulah bukti kualitasnya.
Penting dipahami, tingkatan tawakal yang tinggi bukan jaminan hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya, ujian bisa jadi lebih berat karena kapasitasnya sudah lebih besar. Yang membedakan hanyalah cara ia merespons: dengan lapang dada, tanpa kepahitan yang berkepanjangan.

Mencapai level ini jelas tidak instan. Butuh tahun-tahun latihan, kesediaan introspeksi, dan lingkungan yang mendukung. Tapi kabar baiknya, setiap orang punya peluang untuk terus naik, sekecil apa pun langkahnya.
Tabel Ringkasan Tingkatan Tawakal
Supaya lebih mudah membayangkan posisi kita masing-masing, berikut ringkasan lima tingkatan tawakal yang sudah dibahas:

| Tingkatan | Karakteristik Utama | Tanda Masih di Fase Ini |
|---|---|---|
| Pertama | Tawakal karena terpaksa, muncul saat kehabisan akal | Semangat penyerahan mengendur ketika keadaan membaik |
| Kedua | Rutin menjalankan doa dan penyerahan, tapi belum meresap | Mudah goyah saat menghadapi ujian besar |
| Ketiga | Sadar dan terukur, mampu memisahkan kendali dan bukan kendali | Mulai tenang, meski sesekali masih cemas berlebihan |
| Keempat | Tenang dalam ketidakpastian, ketenangan sudah menjadi karakter | Stabil dalam tekanan, sedih tetap wajar namun tidak berlarut |
| Kelima | Tawakal total yang menyatu dengan ibadah dan keseharian | Lapang menghadapi ujian berat, usaha dijalani sebagai ibadah |
Tabel ini hanya alat bantu, bukan patokan kaku. Seseorang bisa berada di tingkat ketiga dalam urusan rezeki, tapi masih di tingkat kedua dalam urusan keluarga. Tingkatan tawakal tidak selalu berjalan seragam di semua lini kehidupan.
Faktor yang Mempengaruhi Naik-Turunnya Tingkatan Tawakal
Mengapa ada orang yang cepat naik tingkat, sementara yang lain jalan di tempat bertahun-tahun? Ada beberapa faktor yang biasanya berperan, dan mengenalinya bisa membantu kita mempercepat proses.

Faktor pertama adalah pemahaman. Semakin dalam seseorang memahami tawakal arti dan konsekuensinya, semakin mudah ia mempraktikkannya. Orang yang hanya tahu definisi kulit luar cenderung bingung saat menghadapi situasi nyata yang menuntut penyerahan.
Faktor kedua adalah lingkungan. Bergaul dengan orang-orang yang sudah matang secara spiritual memberi efek menular yang nyata. Sebaliknya, lingkungan yang penuh kecemasan dan materialisme membuat tawakal sulit tumbuh.

Faktor ketiga adalah pengalaman hidup. Ujian yang sudah dilalui dengan baik akan memperkuat fondasi. Namun ujian yang dihadapi dengan kepahitan bisa membuat seseorang justru mundur ke tingkat yang lebih rendah, setidaknya untuk sementara.
Faktor keempat adalah konsistensi latihan. Tawakal bukan bakat, tapi keterampilan batin yang bisa dilatih. Orang yang rajin muhasabah, memperbanyak syukur, dan melatih diri untuk tidak reaktif berlebihan akan lebih cepat naik tingkat.

Manfaat Tawakal yang Bisa Dirasakan Langsung
Manfaat tawakal bukan hanya janji di akhirat, tapi juga bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang sering luput dibahas ketika orang berbicara tentang tingkatan tawakal.
Manfaat pertama adalah ketenangan. Ketika beban hasil sudah diserahkan, pikiran jadi lebih lega. Tidur lebih nyenyak, kerja lebih fokus, dan keputusan yang diambil cenderung lebih jernih karena tidak dicemari kepanikan.

Manfaat kedua adalah daya tahan terhadap stres. Orang yang punya sikap tawakal cenderung lebih tahan banting menghadapi tekanan. Ini bukan karena ia kebal masalah, tapi karena ia punya tempat untuk meletakkan beban.
Manfaat ketiga adalah relasi yang lebih sehat. Orang yang tawakal biasanya lebih mudah memaafkan, tidak gampang membalas, dan tidak terlalu ambil pusing dengan pengakuan orang lain. Sikap ini membuat hubungan sosial terasa lebih ringan dan hangat.

Manfaat keempat adalah produktivitas yang lebih stabil. Aneh kedengarannya, tapi orang yang menyerahkan hasil justru sering lebih produktif. Ia berani mengambil risiko yang wajar, tidak terlalu lama terjebak dalam penyesalan, dan lebih cepat bangkit setelah kegagalan.
Manfaat kelima adalah kesehatan mental yang lebih terjaga. Dalam banyak pengalaman, kecemasan berlebihan sering muncul karena seseorang merasa harus mengendalikan segalanya. Ketika ia menyadari ada batas kendali, kecemasannya perlahan mengendur.

Perbedaan Tawakal, Ikhtiar, dan Pasrah yang Sering Dikelirukan
Salah satu kesalahan umum dalam memahami tingkatan tawakal adalah mencampuradukkan tawakal dengan pasrah pasif. Padahal keduanya sangat berbeda, meski sekilas tampak mirip.
Ikhtiar adalah usaha maksimal yang dilakukan dengan sadar. Tawakal adalah penyerahan hasil setelah ikhtiar dijalankan. Sementara pasrah pasif adalah berhenti berusaha dan menyebutnya takdir. Pasrah pasif sering kali hanya pembenaran untuk kemalasan.

Contohnya begini. Mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh lalu menyerahkan hasil ujian kepada Allah itu tawakal. Mahasiswa yang tidak belajar lalu berharap lulus karena takdir itu bukan tawakal, melainkan kelalaian yang dibungkus kata-kata spiritual.
Perbedaan ini krusial karena menyangkut tingkatan tawakal yang sesungguhnya. Orang yang keliru memahami perbedaan ini cenderung berhenti berkembang, karena menganggap dirinya sudah bertawakal padahal belum menjalankan separuh dari konsepnya.

Cara Melatih Diri Naik ke Tingkatan Tawakal yang Lebih Tinggi
Setelah mengenali semua tingkatan tawakal, pertanyaan berikutnya: bagaimana caranya naik? Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dicoba, tanpa harus langsung mengubah seluruh hidup.
- Mulai dari urusan kecil. Latih penyerahan pada hal-hal ringan dulu, seperti hasil ujian harian atau respons orang lain terhadap pesan Anda. Semakin sering dilatih di skala kecil, semakin siap Anda menghadapi skala besar.
- Pisahkan kendali dan bukan kendali. Setiap kali cemas, tanyakan: ini masih dalam kendali saya atau tidak? Jika sudah di luar kendali, kembalikan kepada Allah dan alihkan energi ke hal yang masih bisa dikerjakan.
- Perbanyak syukur harian. Rasa syukur melatih hati untuk percaya bahwa yang diberikan selama ini sudah cukup baik. Dari rasa cukup, penyerahan jadi lebih mudah.
- Kurangi konsumsi konten yang memicu kecemasan. Terlalu banyak melihat pencapaian orang lain bisa mengaburkan rasa cukup dan mempersulit tawakal.
- Cari teman diskusi yang sehat. Berbincang dengan orang yang lebih matang secara spiritual membantu kita melihat perspektif yang lebih luas.
- Biasakan mengevaluasi diri, bukan menghakimi diri. Evaluasi mencari pelajaran, penghakiman mencari kesalahan. Yang pertama menumbuhkan, yang kedua melemahkan.
- Jaga ibadah wajib sebagai fondasi. Tanpa fondasi ini, tingkatan tawakal yang tinggi akan sulit dicapai, karena tawakal berakar dari hubungan yang sehat dengan Allah.
Yang kenaikan tingkat jarang berjalan mulus. Ada kalanya kita merasa sudah maju, lalu tergelincir lagi karena satu peristiwa. Itu wajar. Yang penting, arahnya tetap ke depan.

Kesalahan yang Menghambat Pencapaian Tingkatan Tawakal
Banyak orang sebenarnya sudah berusaha, tapi langkahnya tersendat karena beberapa kesalahan yang jarang disadari. Mengenali kesalahan ini bisa menghemat waktu dan tenaga.
Kesalahan pertama adalah menganggap tawakal sebagai pengganti usaha. Ini keliru besar. Tawakal justru menuntut usaha maksimal, bukan menggantikannya. Orang yang berhenti berusaha lalu menyebut dirinya tawakal sebenarnya belum memahami konsep dasarnya.
Kesalahan kedua adalah mengukur tawakal dari hasil. Misalnya, seseorang merasa sudah tawakal karena usahanya berhasil. Padahal tawakal sejati diuji justru ketika hasil tidak sesuai harapan. Jika hanya tenang saat berhasil, itu bukan tawakal, melainkan kebetulan yang menyenangkan.
Kesalahan ketiga adalah membandingkan proses spiritual dengan orang lain. Setiap orang punya ritme sendiri. Membandingkan diri dengan yang tampak lebih maju bisa memicu keputusasaan, sementara membandingkan diri dengan yang tampak lebih mundur bisa memicu kesombongan. Keduanya sama-sama menghambat.
Kesalahan keempat adalah mengabaikan aspek emosional. Tawakal bukan berarti menekan perasaan. Sedih, kecewa, dan marah itu manusiawi. Yang perlu dilatih adalah bagaimana perasaan itu dikelola, bukan bagaimana ia disembunyikan.
Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Tingkatan Tawakal
Bagian ini merangkum beberapa pertanyaan yang paling sering muncul, terutama dari pembaca yang baru mulai menekuni topik ini.
Apakah Tingkatan Tawakal Bisa Turun?
Bisa, dan itu hal yang wajar. Tingkatan tawakal bukan gelar permanen, melainkan kondisi yang perlu dijaga. Ujian berat, lingkungan yang kurang mendukung, atau kelalaian dalam berlatih bisa membuat seseorang mundur untuk sementara. Yang penting, ia menyadari dan segera kembali.
Penurunan sementara tidak berarti kegagalan total. Justru dengan menyadari bahwa kita sedang mundur, proses pemulihan bisa dimulai lebih cepat.
Apakah Orang yang Tawakal Selalu Tenang?
Tidak selalu. Orang yang tawakal tetap bisa merasa sedih, kecewa, atau takut. Bedanya, perasaan itu tidak sampai membuatnya kehilangan arah. Ia tetap bisa berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat meski sedang emosional.
Jadi, ukuran tawakal bukan pada ada-tidaknya emosi, tapi pada cara mengelolanya.
Bagaimana Cara Tahu Kita Sedang di Tingkatan Mana?
Cara paling jujur adalah melihat respons kita saat menghadapi situasi yang tidak sesuai keinginan. Jika masih mudah panik dan menyalahkan segalanya, kemungkinan besar masih di tingkat awal. Jika sudah bisa tenang dan mengambil pelajaran, berarti sudah lebih maju.
Selain itu, perhatikan juga konsistensi. Tawakal sejati biasanya stabil, tidak hanya muncul di saat-saat tertentu saja.
Apakah Tawakal Berarti Tidak Boleh Punya Rencana?
Sama sekali tidak. Punya rencana justru bagian dari ikhtiar, dan ikhtiar adalah salah satu pilar tawakal. Yang perlu disadari, rencana bisa berubah, dan di situlah penyerahan diperlukan.
Orang yang tawakal biasanya justru lebih siap menyusun rencana, karena ia tidak takut gagal. Ia tahu kegagalan bukan akhir segalanya.
Apa Manfaat Tawakal dalam Dunia Kerja?
Manfaat tawakal di dunia kerja cukup banyak. Salah satunya menurunkan tingkat stres, karena tidak semua hasil dibebankan pada diri sendiri. Selain itu, orang yang tawakal cenderung lebih berani mengambil keputusan dan tidak terlalu lama terjebak dalam penyesalan.
Dalam tim, sikap tawakal juga membantu menciptakan suasana yang lebih sehat. Orang tidak saling menyalahkan berlebihan saat proyek gagal, karena fokusnya pada pelajaran, bukan pada pencarian kambing hitam.
Kaitan Tingkatan Tawakal dengan Topik Spiritual Lain
Tingkatan tawakal tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan topik-topik spiritual lain seperti syukur, sabar, dan rida. Memahami keterkaitan ini bisa membantu mempercepat perjalanan.
Syukur dan tawakal saling menguatkan. Orang yang bersyukur lebih mudah menyerahkan hasil, karena ia percaya apa pun yang terjadi, ada kebaikan yang bisa dipetik. Sementara sabar menjadi jembatan antara proses panjang dan hasil yang belum tampak.
Rida—merasa puas dengan ketetapan Allah—adalah tingkat lanjutan yang sering dikaitkan dengan tawakal. Jika tawakal menyerahkan hasil, rida menerima hasil itu dengan lapang. Keduanya saling melengkapi seperti dua sisi koin.
Anda bisa mempelajari topik-topik turunan ini secara terpisah untuk memperkaya pemahaman. Beberapa pembaca mungkin juga tertarik menelusuri konsep serupa seperti qana’ah dalam urusan rezeki, atau muhasabah sebagai latihan introspeksi harian.
Penutup: Menapaki Tingkatan Tawakal Satu Langkah Demi Satu Langkah
Setelah menelusuri lima tingkatan tawakal, jelas bahwa perjalanan ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal konsistensi. Setiap tingkatan punya tantangannya sendiri, dan setiap orang punya ritmenya masing-masing.
Yang paling penting adalah mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil, dengan kesadaran penuh. Tidak perlu menunggu jadi sempurna untuk mulai bertawakal. Justru dengan mulai, kita akan bertumbuh.
Ingat kembali poin utamanya: tawakal arti-nya bukan menyerah, sikap tawakal harus dibangun di atas ikhtiar, tawakal itu apa secara utuh agar tidak salah praktik, dan manfaat tawakal bisa dirasakan langsung dalam keseharian. Kelima tingkatan tawakal yang sudah dibahas hanyalah peta—langkah nyatanya tetap milik Anda.
Untuk informasi rujukan lebih komprehensif, Anda juga dapat membaca referensi standar terpercaya seputar topik ini.
Simak juga kumpulan artikel dan tips lainnya di arsip artikel terkait kami.