Penulisan Almarhumah: Panduan dan Penjelasan Lengkap
Almarhumah adalah sebutan yang lekat dengan penghormatan terakhir bagi perempuan yang telah berpulang, dan cara menuliskannya kerap membuat banyak orang ragu. Jujur saja, saya sendiri pernah salah kaprah soal kata ini saat pertama kali menyunting naskah berita duka.
Padahal, satu huruf saja keliru, makna dan kesopanannya bisa bergeser. Lewat panduan ini, saya ingin mengajak Anda menelusuri tata cara penulisan almarhumah secara utuh: dari definisi, aturan baku, perbedaan dengan alm., hingga kesalahan yang sering luput.
Mengenal Kata Almarhumah dan Makna di Baliknya
Sebelum masuk ke teknis penulisan, ada baiknya kita sepakat dulu soal makna. hal ini berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk muannats (perempuan) dari kata “marhum” yang berarti “yang dirahmati”. Jadi, ketika seseorang menyebut almarhumah, ia sedang mendoakan agar perempuan yang telah wafat mendapat rahmat dari Allah.
Karena itu, kata ini bukan sekadar label status. Ia membawa doa dan penghormatan. Dalam praktik keseharian di Indonesia, langkah ini lazim dipakai di surat undangan tahlilan, teks berita duka, prasasti, hingga dokumen resmi kenegaraan.

Yang menarik, pemakaian kata ini juga menandai kesopanan berbahasa. Menyebut “orang yang sudah meninggal” terasa dingin, sementara hal ini memberi rasa hormat yang pantas. Menurut pengalaman saya mendampingi keluarga saat mengurus dokumen kematian, pemilihan kata yang tepat ternyata membantu meredakan kesedihan—sekecil apa pun bentuk penghormatan itu.
Asal-Usul dan Posisi Kata dalam Bahasa Indonesia
Kata langkah ini sudah lama diserap ke dalam bahasa Indonesia dan tercatat dalam kamus besar. Serapan ini masuk melalui jalur bahasa Arab yang menyebar bersama tradisi keislaman di Nusantara. Seiring waktu, pemakaiannya meluas melampaui konteks keagamaan.

Di ruang redaksi, misalnya, hal ini hampir selalu dipakai untuk menyebut tokoh perempuan yang telah wafat. Media nasional punya pedoman internal soal ini agar pemberitaan tetap santun. Ada juga yang menyingkatnya menjadi “almh.” untuk menghemat ruang, terutama di kolom iklan duka.
Posisi kata ini dalam tata bahasa Indonesia tergolong sebagai nomina yang menerangkan orang. Ia bisa berdiri sendiri atau menempel pada nama, misalnya “langkah ini Ibu Siti”. Yang penting, penempatannya harus konsisten agar kalimat tidak rancu.

Mengapa Penulisan yang Tepat Itu Penting
Kesalahan menulis kata ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya nyata. Bayangkan sebuah undangan tahlilan yang menulis “almarhum” untuk perempuan yang wafat—rasanya kurang pas, bukan? Keluarga hal ini bisa tersinggung karena dianggap tidak dihormati dengan benar.
Selain soal rasa, penulisan yang tepat juga soal kredibilitas. Dokumen resmi, artikel berita, dan naskah akademik yang salah menulis kata ini akan terlihat kurang cermat. Pembaca awam pun bisa langsung menilai kualitas penulisnya dari detail kecil seperti ini.

Karena itu, menguasai penulisan hal ini bukan hanya urusan ahli bahasa. Ini keterampilan dasar yang berguna bagi siapa saja yang sering menulis teks formal, mulai dari sekretaris RT sampai jurnalis profesional.
Aturan Baku Penulisan Almarhumah yang Wajib Diketahui
Lalu, bagaimana aturan bakunya? Kabar baiknya, tidak banyak aturan yang harus dihafal. Kuncinya terletak pada konsistensi huruf, penempatan, dan pemakaian tanda baca. Mari kita bedah satu per satu.

Aturan pertama dan paling dasar: hal ini ditulis serangkai, tanpa spasi dan tanpa tanda hubung. Jadi, “almarhumah” benar, sedangkan “al marhumah” atau “al-marhumah” tidak baku dalam bahasa Indonesia.
Aturan kedua, huruf “a” di awal ditulis kecil kecuali di awal kalimat. Banyak orang keliru menulis “langkah ini” di tengah kalimat karena menganggapnya gelar. Padahal, dalam kaidah bahasa Indonesia, kata ini bukan gelar resmi seperti “Raden” atau “Haji”.

Penulisan Huruf Kapital dan Huruf Kecil
Soal kapitalisasi ini sering jadi perdebatan. Di awal kalimat, tentu saja harus kapital: “hal ini meninggalkan tiga orang anak.” Namun di tengah kalimat, huruf kecil lebih tepat: “Kami mengenang almarhumah sebagai sosok yang sabar.”
Pengecualian berlaku ketika kata ini menjadi bagian dari nama lembaga atau judul karya. Misalnya, judul buku “Kenangan untuk langkah ini” tetap memakai huruf kapital karena mengikuti kaidah penulisan judul.

Ada juga yang memilih kapital sebagai bentuk hormat, misalnya di spanduk duka. Secara kaidah ketat, ini tidak baku, tetapi dalam praktik sosial sering dimaklumi. Saran saya, ikuti pedoman resmi untuk naskah formal, dan sesuaikan dengan konteks untuk keperluan yang lebih personal.
Penempatan sebelum Nama dan tanpa Nama
Langkah ini bisa dipakai sebelum nama, seperti “almarhumah Ibu Ani”, atau tanpa nama sama sekali, misalnya “almarhumah adalah guru kami”. Keduanya sah, hanya beda tingkat ketelitian.
Yang perlu dihindari adalah menumpuk kata ini dengan sebutan hormat lain yang berlebihan. Contohnya, “hal ini mendiang Ibu Ani” terasa janggal karena dua kata bermakna serupa dipakai sekaligus. Pilih satu saja, dan itu sudah cukup sopan.
Dalam teks berita, pola yang lazim adalah menyebut nama lengkap diikuti keterangan. Misalnya, “Ani Suryani, langkah ini, dikenal sebagai tokoh pendidikan.” Penempatan seperti ini menjaga alur kalimat tetap lancar tanpa mengorbankan kesantunan.
Perbedaan Alm., Almarhum, dan Almarhumah
Inilah bagian yang paling sering bikin bingung. Tiga bentuk kata ini sekilas mirip, tetapi penggunaannya berbeda. Salah memilih bisa membuat kalimat terasa tidak pas atau bahkan keliru secara makna.

Secara garis besar, perbedaannya terletak pada jenis kelamin dan tingkat formalitas. Alm. Adalah singkatan yang netral, sedangkan almarhum khusus untuk laki-laki, dan langkah ini untuk perempuan. Mari kita lihat lebih rinci.
Kapan Memakai Alm. sebagai Singkatan
Alm. Merupakan singkatan dari “almarhum” atau “hal ini” yang dipakai ketika ruang terbatas. Kita sering melihatnya di iklan duka, undangan, atau prasasti. Karena singkat, bentuk ini praktis untuk teks yang harus ringkas.

Namun, alm. Punya kelemahan: tidak menunjukkan jenis kelamin. Pembaca harus menebak dari nama yang menyertainya. Dalam konteks resmi yang menuntut kejelasan, sebaiknya hindari singkatan ini dan tulis bentuk lengkapnya.
Perhatikan juga penulisannya: “alm.” memakai titik karena merupakan singkatan. Tanpa titik, bentuknya dianggap keliru dalam penulisan formal. Detail kecil ini sering terlewat, padahal berpengaruh pada kesan profesionalisme.
Almarhum untuk Laki-Laki dan Almarhumah untuk Perempuan
Kaidah paling jelas: almarhum dipakai untuk laki-laki, langkah ini untuk perempuan. Pasangan istilah ini mencerminkan bentuk maskulin dan feminin dalam bahasa Arab yang diserap ke bahasa Indonesia.
Praktiknya, banyak orang tertukar karena terburu-buru. Misalnya, menulis “almarhum” untuk tokoh perempuan hanya karena lupa detail. Untuk menghindari ini, biasakan memeriksa ulang nama dan jenis kelamin sebelum menulis.
Dalam dokumen yang menyebut banyak orang, konsistensi menjadi kunci. Jika satu nama memakai langkah ini, nama perempuan lain di dokumen yang sama juga harus memakai bentuk serupa. Konsistensi inilah yang membedakan tulisan rapi dari tulisan asal-asalan.
Kombinasi Alm. dan Almarhumah dalam Satu Teks
Dalam satu teks, kita boleh saja memakai keduanya asalkan ada alasan jelas. Misalnya, daftar singkat di undangan memakai alm., sementara narasi penjelas di badan surat memakai hal ini. Yang penting, pembaca tidak bingung.

Yang perlu diwaspadai adalah mencampur keduanya tanpa pola. Contohnya, “alm. Ani dan langkah ini Budi” dalam satu kalimat—selain tidak konsisten, ini juga keliru karena jenis kelaminnya tertukar. Selalu periksa kecocokan antara kata dan nama.
Tips praktis dari saya: tentukan dulu gaya penulisan sejak awal naskah. Apakah Anda akan memakai bentuk lengkap sepanjang teks, atau singkatan di bagian tertentu? Dengan begitu, revisi di akhir tidak akan merepotkan.

Almarhumah untuk Berbagai Keperluan: Konteks dan Contoh Nyata
Setelah paham aturannya, kini saatnya melihat penerapannya. Kata langkah ini muncul di banyak jenis teks dengan gaya yang berbeda-beda. Memahami konteksnya membantu kita memilih bentuk yang paling pas.
Dari undangan tahlilan sampai berita duka di media nasional, setiap konteks punya tuntutan sendiri. Ada yang menuntut kesantunan tinggi, ada pula yang menuntut keringkasan. Berikut beberapa contoh yang sering kita temui.

Penulisan dalam Undangan dan Teks Duka
Di undangan tahlilan atau yasinan, langkah ini biasanya ditulis dengan huruf kapital di awal sebagai bentuk hormat. Contohnya, “Kami mengundang Bapak/Ibu untuk menghadiri tahlilan Almarhumah Ibu Hj. Fatimah.”
Bentuk seperti ini sudah menjadi konvensi sosial yang diterima luas. Meski secara kaidah ketat huruf kecil lebih tepat, konteks keagamaan dan adat membuat kapitalisasi dianggap wajar. Yang terpenting, penulisannya konsisten sepanjang undangan.
Jangan lupa menambahkan doa singkat setelah nama, seperti “semoga langkah ini husnul khotimah”. Sentuhan ini membuat teks duka terasa lebih hangat dan personal. Menurut pengalaman saya, keluarga yang berduka sangat menghargai detail kecil seperti ini.
Pemakaian dalam Berita dan Artikel Jurnalistik
Di media massa, hal ini dipakai untuk menyebut tokoh perempuan yang telah wafat. Kaidah jurnalistik menuntut penulisan yang ringkas namun tetap sopan. Biasanya, nama lengkap disebut lebih dulu, lalu keterangan menyusul.
Contohnya: “Sri Mulyani, langkah ini, meninggalkan warisan pemikiran tentang pendidikan.” Pola ini menjaga alur kalimat tetap mengalir dan tidak mengulang kata yang sama terlalu sering.

Redaksi besar biasanya punya buku pedoman gaya yang mengatur detail ini. Jika Anda menulis untuk media, sebaiknya ikuti pedoman internalnya. Kalau tidak ada, prinsipnya sederhana: sopan, ringkas, dan konsisten.
Penerapan di Dokumen Resmi dan Prasasti
Dalam dokumen resmi, seperti akta atau surat keterangan, langkah ini dipakai untuk menandai status seseorang. Ketelitian di sini sangat penting karena menyangkut legalitas. Salah tulis bisa memicu kerumitan administratif.

Prasasti dan batu nisan juga sering memuat kata ini. Gaya penulisannya cenderung formal dan lengkap: “hal ini Hj. Nurhayati, lahir di Bandung, wafat dalam keadaan khusnul khotimah.”
Untuk keperluan seperti ini, saya selalu menyarankan pengecekan ganda. Libatkan pihak keluarga untuk memastikan nama, gelar, dan ejaannya benar. Kesalahan di prasasti sulit diperbaiki dan bisa meninggalkan luka bagi keluarga langkah ini.

Cara Menulis Almarhumah Singkat tanpa Kehilangan Kesantunan
Hal ini singkat sering dibutuhkan saat ruang terbatas, misalnya di spanduk, media sosial, atau kolom iklan. Tantangannya: tetap sopan meski singkat. Banyak orang akhirnya menyingkat sembarangan dan hasilnya justru kurang pantas.
Ada beberapa cara yang bisa dipilih sesuai konteks. Kuncinya, pembaca tetap memahami bahwa kata itu merujuk pada perempuan yang telah wafat. Berikut panduan singkat yang biasa saya pakai.

- Gunakan “almh.” untuk teks sangat ringkas. Bentuk ini lazim di iklan duka dan spanduk. Contoh: “Almh. Ibu Sari binti Ahmad”. Pastikan titik di akhir singkatan tetap ada agar dianggap baku.
- Pakai “almarhumah” utuh jika ruang memungkinkan. Jika masih ada ruang, bentuk lengkap lebih baik karena tidak menimbulkan keraguan. Ini pilihan aman untuk undangan dan dokumen resmi.
- Hindari singkatan kreatif sendiri. Bentuk seperti “almrh.” atau “almarhumh.” tidak baku dan membingungkan. Lebih baik pakai bentuk yang sudah dikenal luas.
- Sesuaikan dengan audiens. Untuk pembaca awam, bentuk lengkap lebih ramah. Untuk pembaca internal yang sudah paham konteks, singkatan bisa diterima.
Yang singkatan bukan berarti mengurangi rasa hormat. Selama konteksnya jelas dan penulisannya baku, hal ini singkat tetap pantas dipakai. Justru penulisan yang serampangan—bukan singkatannya—yang membuat teks terasa kurang sopan.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Almarhumah dan Cara Menghindarinya
Setelah berlatih menulis, kita akan menemukan pola kesalahan yang berulang. Sebagian karena kebiasaan, sebagian karena kurang teliti. Mengenali kesalahan ini adalah langkah awal untuk menulis lebih baik.

Berikut daftar kesalahan yang paling sering saya temui, baik saat menyunting naskah orang lain maupun membaca unggahan di media sosial. Coba cek, apakah Anda pernah melakukan salah satunya?
- Menulis “al marhumah” dengan spasi. Bentuk ini tidak baku karena kata serapan ditulis serangkai. Perbaikannya sederhana: hilangkan spasinya.
- Tertukar antara almarhum dan almarhumah. Ini kesalahan paling umum. Selalu cek jenis kelamin tokoh sebelum menulis. Jika ragu, tanyakan kepada narasumber atau keluarga.
- Memakai huruf kapital di tengah kalimat. Kecuali di awal kalimat atau dalam konteks adat, kata ini ditulis dengan huruf kecil.
- Menyingkat tanpa titik. “alm” tanpa titik dianggap kurang rapi. Gunakan “alm.” dengan titik untuk penulisan formal.
- Menumpuk sinonim berlebihan. “Almarhumah mendiang” atau “almarhumah yang telah wafat” terasa berlebihan. Pilih satu bentuk saja.
- Menambahkan kata “Allah” secara keliru. Frasa yang tepat adalah “semoga almarhumah dirahmati Allah”, bukan “almarhumah Allah”. Susunan kata perlu diperhatikan agar maknanya tidak berubah.
Menghindari kesalahan ini sebenarnya tidak sulit. Cukup biasakan membaca ulang naskah sebelum dikirim. Jika perlu, minta orang lain memeriksa—terutama untuk dokumen penting seperti undangan dan prasasti. Kesalahan kecil di teks duka bisa meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga langkah ini.

Alm dan Almarhumah dalam Satu Naskah: Strategi Konsistensi
Banyak penulis bertanya: bolehkah memakai alm. Dan hal ini dalam satu naskah? Jawabannya boleh, asalkan ada aturan main yang jelas. Tanpa aturan, hasilnya akan terasa campur aduk dan membingungkan pembaca.
Strategi paling aman adalah menentukan gaya sejak awal. Misalnya, untuk undangan singkat, pakai alm. Di daftar nama, lalu langkah ini di narasi pembuka. Dengan pembagian peran seperti ini, pembaca tidak akan kebingungan.

Contoh penerapannya: “Acara tahlilan untuk Alm. Bapak Ahmad dan hal ini Ibu Aminah akan digelar ba’da Maghrib.” Di sini, alm. Dan almarhumah dipakai berdampingan untuk dua orang berbeda, dan keduanya jelas merujuk pada jenis kelamin masing-masing.
Satu catatan penting: jangan menyingkat nama orang yang sama dengan dua bentuk berbeda dalam satu dokumen. Jika di awal disebut langkah ini, di bagian lain juga gunakan bentuk yang sama. Konsistensi ini yang membuat naskah terasa profesional.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Penulisan Almarhumah
Bagian ini merangkum pertanyaan yang paling sering diajukan, baik oleh penulis pemula maupun rekan kerja yang minta bantuan menyunting. Semoga jawabannya membantu Anda yang masih ragu.
Apakah Almarhumah Boleh Disandingkan dengan Nama tanpa Gelar?
Boleh. langkah ini tidak mensyaratkan adanya gelar seperti Haji atau Raden. Contoh yang sah: “almarhumah Siti Aminah, guru SD kami.” Yang penting, penulisannya baku dan tidak menimbulkan salah tafsir.

Jika tokoh yang dimaksud memiliki gelar, sebutkan secara lengkap agar informasinya utuh. Misalnya, “hal ini Hj. Nur Halimah”. Susunan ini tetap lazim dipakai di undangan dan prasasti.
Bagaimana Menulis Almarhumah di Awal Kalimat?
Di awal kalimat, huruf pertamanya kapital: “langkah ini dikenal sebagai filantropis.” Ini sesuai kaidah umum penulisan huruf kapital di awal kalimat. Tidak ada perlakuan khusus selain itu.

Yang perlu dihindari adalah mengapitalkan seluruh kata, seperti “hal ini”. Bentuk ini hanya cocok untuk spanduk atau judul yang membutuhkan penekanan visual, bukan untuk teks naratif biasa.
Apakah Ada Perbedaan Antara Almarhumah dan Almah?
Keduanya bermakna serupa, yaitu perempuan yang dirahmati. Bentuk “almah” lebih ringkas dan kadang dipakai dalam konteks yang sangat terbatas. Namun dalam tulisan formal, langkah ini lebih dianjurkan karena lebih lengkap dan baku.
Jika menemukan bentuk “almah” di dokumen lama, jangan buru-buru menganggapnya salah. Bisa jadi itu pilihan gaya penulisnya. Untuk tulisan baru, tetap gunakan hal ini agar sesuai pedoman yang berlaku.
Bisakah Almarhumah Dipakai Untuk Hewan Atau Benda?
Tidak. langkah ini hanya dipakai untuk manusia, khususnya perempuan yang telah wafat. Untuk hewan atau benda, gunakan kata lain seperti “yang telah mati” atau “yang sudah tidak dipakai”.
Pemakaian kata ini pada hewan akan terasa janggal dan bisa dianggap tidak sopan. Konteksnya sangat terikat pada manusia, sehingga sebaiknya gunakan sesuai peruntukannya.
Tabel Ringkasan: Panduan Cepat Penulisan Almarhumah
Agar lebih mudah diingat, berikut ringkasan aturan utama dalam bentuk tabel. Anda bisa menyimpannya sebagai rujukan cepat saat menulis atau menyunting naskah.
| Aspek | Penulisan yang Benar | Penulisan yang Salah | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Bentuk kata | almarhumah | al marhumah / al-marhumah | Ditulis serangkai tanpa spasi |
| Huruf kapital | Almarhumah (awal kalimat) | Almarhumah (tengah kalimat) | Huruf kecil di tengah kalimat |
| Jenis kelamin | Almarhumah (perempuan) | Almarhum (untuk perempuan) | Sesuaikan dengan jenis kelamin |
| Singkatan | almh. | alm / almh (tanpa titik) | Gunakan titik di akhir singkatan |
| Pasangan | Almarhum (laki-laki) dan almarhumah (perempuan) | Almarhumah (laki-laki) | Pasangan bentuk maskulin-feminin |
| Konteks | Undangan, berita, dokumen resmi | Untuk hewan atau benda | Khusus manusia yang telah wafat |
Gunakan tabel ini sebagai pengingat, tetapi jangan berhenti di situ. Praktik menulis secara rutin akan membuat aturan-aturan ini terasa alami. Seiring waktu, Anda akan otomatis menulis hal ini dengan tepat tanpa harus membuka rujukan.
Almarhum Almarhumah sebagai Pasangan Istilah dalam Praktik
Dalam dokumen yang menyebut banyak orang, pasangan istilah almarhum dan langkah ini akan sering muncul berdampingan. Menulis keduanya dengan konsisten bukan sekadar soal kaidah, tetapi juga soal empati.
Contoh nyata bisa dilihat di pengumuman resmi sebuah lembaga. Misalnya, “Kami menyampaikan duka cita atas wafatnya almarhum Bapak Hendra dan hal ini Ibu Ratna, pendiri yayasan kami.” Susunan ini jelas, sopan, dan mudah dibaca.
Perhatikan juga urutan penyebutannya. Sebagian penulis menempatkan almarhum lebih dulu karena mengikuti urutan tradisi, lalu langkah ini. Tidak ada aturan baku soal urutan, tetapi konsistensi dalam satu naskah tetap dianjurkan.
Menurut pengalaman saya, pasangan istilah ini paling baik ditulis tanpa singkatan ketika menyangkut tokoh yang dihormati. Bentuk lengkap memberi ruang bagi pembaca untuk meresapi makna doa di dalamnya. Singkatan sebaiknya disimpan untuk teks yang benar-benar ringkas.
Tips Praktis Menyunting Naskah Yang Memuat Almarhumah
Bagi Anda yang sering menyunting tulisan orang lain, kata ini kerap menjadi titik rawan. Saya punya beberapa kebiasaan kecil yang membantu menjaga kualitas naskah.
Pertama, selalu baca naskah dengan suara pelan. Kesalahan seperti “almarhum” untuk perempuan biasanya langsung terasa janggal saat dibaca keras. Telinga sering lebih peka daripada mata.
Kedua, buat daftar periksa sederhana: ejaan, jenis kelamin, kapitalisasi, dan tanda baca. Empat hal ini mencakup sebagian besar kesalahan. Dengan daftar periksa, proses penyuntingan jadi lebih cepat dan teliti.
Ketiga, perhatikan konteks. Naskah undangan boleh memakai kapital untuk hal ini, sementara artikel berita sebaiknya mengikuti kaidah baku. Fleksibilitas ini penting agar tulisan tetap pantas di setiap situasi.
Terakhir, jangan ragu bertanya. Jika ragu soal nama atau status seseorang, tanyakan kepada pihak yang berwenang. Lebih baik terlihat teliti daripada salah menulis nama langkah ini di dokumen resmi.
Menutup dengan Catatan tentang Penghormatan
Menulis hal ini dengan benar ternyata lebih dari sekadar urusan tata bahasa. Setiap huruf yang tepat adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang dan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dengan mengikuti panduan di atas—menulis serangkai, memperhatikan jenis kelamin, konsisten memakai bentuk, dan teliti menyunting—Anda sudah berkontribusi pada budaya berbahasa yang santun. Detail kecil ini sering diabaikan, padahal dampaknya terasa.
Semoga penjelasan seputar almarhumah ini membantu Anda menulis dengan lebih percaya diri. Jika ingin mendalami topik terkait, Anda bisa menelusuri panduan penulisan sebutan untuk tokoh yang telah wafat, tata cara menulis teks duka, serta pedoman ejaan bahasa Indonesia yang baku. Untuk rujukan resmi, silakan kunjungi laman penjelasan almarhumah di Wikipedia.
Simak juga kumpulan artikel dan tips lainnya di arsip artikel terkait kami.